Berita & Agenda

IQPlus, (26/08) - Setelah akuisisi rampung pada Desember 2019 dan dilanjutkan dengan penambahan modal melalui penerbitan saham baru (rights issue) pada April 2020, kinerja PT Bank Jago Tbk (Bank Jago) kuartal II-2020 relatif membaik. Aset meningkat dengan sejumlah indikator keuangan menunjukkan tren positif. Adapun dari sisi permodalan dan likuiditas, bank ini bukan hanya sehat, juga kuat untuk menopang rencana ekspansi.

Aset bank meningkat 146% menjadi Rp1,7 triliun ( year on year /yoy) per akhir Juni 2020. Dari jumlah tersebut, rasio aset produktif bermasalah terhadap total aset terjaga di level 0,17%. Kondisi ini jauh lebih baik dibandingkan posisi yang sama tahun lalu sebesar 4,83%. Adapun rasio kredit bermasalah ( non performing loan /NPL) gross, turun dari 6,41% pada Juni 2019 menjadi 0,92% pada Juni 2020.

Dari sisi penyaluran kredit, terjadi penurunan sebesar 27% menjadi Rp273 miliar. Sedangkan dana pihak ketiga juga turun 26% menjadi Rp405 miliar. Hal ini terutama karena penurunan aktivitas usaha dan pertumbuhan ekonomi akibat dampak dari pandemi Covid 19.

"Angka penyaluran kredit dan dana pihak ketiga Bank Jago memang masih relatif kecil. Namun, seiring berjalannya waktu, terutama setelah bisnis model diimplementasikan secara optimal, kami optimistis bank ini akan terus bertumbuh dan dapat memberikan manfaat yang besar bagi pengembangan ekonomi digital,"kata Direktur Utama Bank Jago Kharim Siregar, pada acara Public Expose virtual yang diselenggarakan Bursa Efek Indonesia.

Kharim menjelaskan fokus manajemen selama Semester I-2020 adalah menuntaskan rights issue, merancang bisnis model dan mendesain ulang organisasi agar sejalan dengan aspirasi menjadi bank berbasis teknologi. Hal ini tentu berimplikasi pada peningkatan biaya operasional, karena perusahaan berinvestasi di teknologi serta merekrut tenaga kerja yang relevan dengan aspirasi bank.

"Ini sudah menjadi komitmen kami sejak pertama kali mengakuisisi bank. Kami akan terus berinovasi, mengoptimalkan teknologi terkini, untuk memberikan pengalaman baru dalam berbank,"katanya.

Bank Jago memiliki komitmen menjadi bank berbasis teknologi yang memberikan solusi finansial bagi nasabah dan para pelaku ekonomi dengan memperkuat ekosistem digital. Komitmen ini dibangun di atas keyakinan bahwa digitalisasi akan memainkan peran penting dalam meningkatkan semangat kewirausahaan (entrepreneurship), pemerataan kesejahteraan dan pada akhirnya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

"Untuk mewujudkannya, kami akan memperbanyak partnership , membangun kolaborasi dan sinergi dengan semua pelaku ekonomi digital. Prinsip kolaborasi akan menjadi faktor kunci,"katanya.

Bank Jago akan berkolaborasi dengan semua platform . Mulai dari platform e-commerce , aplikasi penyedia jasa transportasi, industri travel , online shop , hiburan hingga pembayaran digital dan fintech lending. Selain itu, Bank Jago juga akan menyalurkan pembiayaan berbasis partnership dengan menyasar ekosistem fintech dan supply chain .

"Segmen yang kami sasar itu menengah dan mass market , yang sebagian besar merupakan pelaku UMKM. Kami tentu memiliki aspirasi untuk ikut mempercepat digitalisasi UMKM sehingga memiliki daya saing lebih baik lagi,"kata Kharim.

Terkait dampak COVID 19, pengaruh terhadap NPL Bank Jago dan kebutuhan untuk melakukan restrukturisasi kredit, bisa dibilang sangat kecil. Selain itu, Bank Jago juga lebih selektif dalam menyalurkan kredit baru sejak wabah melanda negeri ini. "Kami akan memulai ekspansi pada semester dua, setelah meluncurkan aplikasi dan menerapkan bisnis model secara bertahap,"kata Kharim.

Dengan berbagai kondisi ini, Bank Jago membukukan rugi bersih senilai Rp 51 miliar di Semester I-2020. (end/as)

Daily Report

Equity Analysis

Selengkapnya

Technical Analysis

Selengkapnya
Compendium

2018

Download

2017

Download