Memasuki tahun babi tanah, investor perlu mencermati sejumlah saham yang layak dilirik. Sebaliknya, investor juga perlu berhati-hati melihat saham-saham yang justru tak akan mendatangkan cuan di tahun ini.

Chief Executive Officer (CEO) Ara Hunter Hendra Martono mengatakan, tahun 2019 menjadi tahun babi tanah. Menurutnya, babi terdiri dari elemen air, sehingga bisnis yang diuntungkan adalah sektor properti yang bergerak di tanah skala kecil dan menawarkan hunian murah.

“Babi memiliki unsur air, tahun ini tanah ketemu air sehingga properti bisa jalan lagi. Kalau tahun lalu kan tanah ketemu tanah jadi kuat, makanya bisnisnya agak terhambat,” katanya, Senin (4/2).

Untuk saham-saham yang berbasis properti, ambil contoh PT Properti (PPRO), Hendra memprediksi emiten ini akan meraih cuan di tahun babi tanah, lantaran PPRO adalah salah satu emiten yang memasarkan proyek apartemen dengan harga murah, “Daya beli masyarakat semakin menurun, sehingga sangat besar potensi PPRO dilirik oleh konsumer, harusya sih dari tahun lalu bisa baik, tapi karena ketemu tanah jadi sulit,” ungkapnya.

Selain itu menurut perhitungannya, saham akan hoki di tahun ini adalah saham emiten dengan sektor berunsur kayu, seperti industri yang berbasis crude palm oil(CPO) atau sektor perkebunan. Dia melihat, tahun ini CPO akan mengalami kenaikan, tidak seperti tahun lalu dimana tanah melawan tanah besar sehingga sulit untuk kayu melawan tanah besar tersebut, sementara tahun ini yang diawan tanah kecil berunsur air. 

Untuk itu, Hendra menyarankan investor dapat mencermati saham-saham seperti Agro Lestari (AALI) dan PP London Sumatera (LSIP).

“AALI dan LSIP tahun lalu kesulitan, kemungkinan tahun ini akan mengalami perbaikan apalagi ditopang dengan harga komoditas yang membaik juga, sahamnya termasuk likuid dibandingkan yang lainnya,” jelasnya.

Unsur lainnya yang diperkirakan bakal cuan tahun ini adalah logam besar dan kecil. Hendra optimistis unsur logam kecil seperti Antam (ANTM) dan Timah (TINS) akan semakin cemerlang di tahun ini, ditambah lagi kinerja keuangan yang membaik di tahun 2018 silam. 

Menariknya Hendra mengatakan, Pelat Timah Nusantara (NIKL) berpotensi memproleh hoki di tahun babi tanah ini, meski transaksinya kecil. Selanjutnya, sektor lainnya yang diprediksi memproleh cuan adalah sektor perbankan dan manufaktur.

Sementara itu, untuk emiten sektor telekomunikasi tantangannya akan semakin besar di tahun ini. "Tahun ini tantangannya sangat besar yang berhubungan dengan air seperti telekomunikasi tantangannya semakin tidak dinamis untuk semua emitennya juga, masalah perkembangan teknologi,” katanya.

Menurut Hendra, tantangan yang akan dihadapi sektor telekomunikasi tahun ini adalah masalah jaringan yang masih terhambat, Amerika Serikat (AS ) tidak ingin China menguasi 5G maka AS menghambat China untuk mengembangkan 5G yang tentunya akan berdampak pada Indonesia. “Kalau China terhambat apalagi Indonesia, ibaratnya China batuk Indonesia TBC, ditambah lagi pesaingannya semakin ketat, tahun lalu telekomunikasi berharap data, sekarang data semakin murah otomatis pendapatan akan turun,” ungkapnya.

  • Artikel ini pernah tayang di Kontan.co.id dengan judul “Simak sektor serta saham yang diramal akan untung dan buntung di tahun babi tanah”